Religious Myspace Comments
Foto saya
jakarta, Indonesia
Hingga detik ini tak pernah sang matahari berkata pada sang bumi " Kau Berhutang Budi Padaku " Saksikan apa yang terjadi dengan cinta yang demikian. Seluruh penjuru langit terang karenanya ..... Karena CINTA SEJATI.

23/10/10

PESAN IBU

Suatu hari, tampak seorang pemuda tergesa-gesa memasuki sebuah restoran karena kelaparan ‎sejak pagi belum sarapan. Setelah memesan makanan, seorang anak penjaja kue menghampirinya, ‎‎"Om, beli kue Om, masih hangat dan enak rasanya!"
‎
‎"Tidak Dik, saya mau makan nasi saja," kata si pemuda menolak.
‎
Sambil tersenyum si anak pun berlalu dan menunggu di luar restoran.
‎
Melihat si pemuda telah selesai menyantap makanannya, si anak menghampiri lagi dan ‎menyodorkan kuenya. Si pemuda sambil beranjak ke kasir hendak membayar makanan berkata, ‎‎"Tidak Dik, saya sudah kenyang."
‎
Sambil terus mengikuti si pemuda, si anak berkata, "Kuenya bisa dibuat oleh-oleh pulang, Om."
‎
Dompet yang belum sempat dimasukkan ke kantong pun dibukanya kembali. Dikeluarkannya dua ‎lembar ribuan dan ia mengangsurkan ke anak penjual kue. "Saya tidak mau kuenya. Uang ini ‎anggap saja sedekah dari saya."
‎
Dengan senang hati diterimanya uang itu. Lalu, dia bergegas ke luar restoran, dan memberikan ‎uang pemberian tadi kepada pengemis yang berada di depan restoran.
‎
Si pemuda memperhatikan dengan seksama. Dia merasa heran dan sedikit tersinggung. Ia langsung ‎menegur, "Hai adik kecil, kenapa uangnya kamu berikan kepada orang lain? Kamu berjualan kan ‎untuk mendapatkan uang. Kenapa setelah uang ada di tanganmu, malah kamu berikan ke si ‎pengemis itu?"

‎"Om, saya mohon maaf. Jangan marah ya. Ibu saya mengajarkan kepada saya untuk mendapatkan ‎uang dari usaha berjualan atas jerih payah sendiri, bukan dari mengemis. Kue-kue ini dibuat oleh ‎ibu saya sendiri dan ibu pasti kecewa, marah, dan sedih, jika saya menerima uang dari Om bukan ‎hasil dari menjual kue. Tadi Om bilang, uang sedekah, maka uangnya saya berikan kepada ‎pengemis itu."
‎
Si pemuda merasa takjub dan menganggukkan kepala tanda mengerti. "Baiklah, berapa banyak ‎kue yang kamu bawa? Saya borong semua untuk oleh-oleh." Si anak pun segera menghitung ‎dengan gembira.
‎
Sambil menyerahkan uang si pemuda berkata, "Terima kasih Dik, atas pelajaran hari ini. Sampaikan ‎salam saya kepada ibumu."
‎
Walaupun tidak mengerti tentang pelajaran apa yang dikatakan si pemuda, dengan gembira ‎diterimanya uang itu sambil berucap, "Terima kasih, Om. Ibu saya pasti akan gembira sekali, hasil ‎kerja kerasnya dihargai dan itu sangat berarti bagi kehidupan kami." ‎

Ini sebuah ilustrasi tentang sikap perjuangan hidup yang POSITIF dan TERHORMAT. Walaupun ‎mereka miskin harta, tetapi mereka kaya mental! Menyikapi kemiskinan bukan dengan mengemis ‎dan minta belas kasihan dari orang lain. Tapi dengan bekerja keras, jujur, dan membanting tulang.
‎
Jika setiap manusia mau melatih dan mengembangkan kekayaan mental di dalam menjalani ‎kehidupan ini, lambat atau cepat kekayaan mental yang telah kita miliki itu akan mengkristal ‎menjadi karakter, dan karakter itulah yang akan menjadi embrio dari kesuksesan sejati yang ‎mampu kita ukir dengan gemilang.‎

Tidak ada komentar:

Posting Komentar